TANGERANG SELATAN — Sebuah keluarga di wilayah Tangerang Selatan mengaku “terpenjara” di rumah sendiri setelah akses jalan menuju hunian mereka diduga ditutup dengan tembok oleh sekelompok organisasi kemasyarakatan (ormas).
Peristiwa tersebut mencuat setelah video dan keluhan keluarga korban beredar di media sosial. Dalam rekaman, terlihat akses keluar-masuk rumah tertutup bangunan tembok, sehingga penghuni kesulitan untuk beraktivitas, termasuk keluar untuk bekerja maupun keperluan sehari-hari.
Menurut keterangan keluarga, penutupan akses jalan itu terjadi secara tiba-tiba tanpa pemberitahuan yang jelas. Mereka mengaku telah mencoba berkomunikasi dengan pihak terkait, namun belum menemukan titik temu.
“Kami tidak bisa keluar masuk dengan normal. Seperti dikurung di rumah sendiri,” ujar salah satu anggota keluarga.
Warga sekitar menyebutkan bahwa persoalan tersebut diduga berkaitan dengan sengketa lahan atau akses jalan yang belum terselesaikan. Namun hingga kini, belum ada keterangan resmi terkait dasar hukum penutupan akses tersebut.
Aparat dari Kepolisian Negara Republik Indonesia telah menerima laporan dan tengah melakukan penyelidikan. Polisi juga berupaya memediasi kedua belah pihak untuk mencari solusi terbaik tanpa menimbulkan konflik lebih lanjut.
Pemerintah daerah setempat diharapkan segera turun tangan untuk memastikan hak akses warga tidak terhambat, serta menertibkan tindakan yang berpotensi melanggar hukum.
Kasus ini menjadi sorotan karena menyangkut hak dasar warga atas akses tempat tinggal. Banyak pihak mendesak agar persoalan tersebut segera diselesaikan secara adil dan transparan, serta mencegah kejadian serupa terulang di kemudian hari.
















